Bagaimana blognya? Tanya Mee. Sembari melingkarkan lengannya di leherku..
“Belum begitu bagus,..masih biasa-biasa saja.. jawabku datar.
“Coba, boleh dilihat nggak…?”
Aku mengangguk, kemudian menggeser kursiku dari depan computer.
Mee beranjak sebentar mengambil kursi kecil di bawah meja rias, kemudian meletakkannya disebelahku.
Matanya yang bening lalu mengawasi layar computer. Mengamati beberapa perubahan kecil pada blog ku.
“Heii…bukankah ini sudah cukup baik untuk seorang pemula” puji nya seraya menunjuk layar monitor.
Aku tersenyum kecil.
Mee mengambil mouse, lalu menggerakkannya pada blogku, seperti ingin tahu lebih detail.
“Susah nggak buat blognya ?” tanya Mee sembari menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku nyengir… tak segera menjawab.
Jujur harus aku akui, di jaman dimana kuda sudah nggak lagi gigit besi, di mana orang item disuntik vitamin jadi putih, di mana transaksi udah maen gesek, dimana telepon sudah gak perlu kabel, dan di mana dunia yang sudah worldless itu, tetap saja, untuk urusan dunia maya, aku memang rada-rada ketinggalan.
Mungkin ini dikarenakan aku sedikit konservatif dalam hal yang berbau teknologi. Kalau tidak mau dibilang gaptek. Aku seringkali beralasan dan menyebutnya sebagai menyesuaikan dengan kebutuhan. Tetapi begitulah kenyataannya. Saat ini aku tengah bersusah-payah untuk membuat blog ini menjadi “cukup lumayan”…”tidak jelek-jelek amat”…atau apapun namanya nanti, setidaknya sudah cukup memuaskan bagiku.
Sebab yang aku tahu, seseorang professional kaliber wahid sekalipun masih akan terus belajar dan belajar kalo nggak mau jadi bego… ha..haa..haa…
Tapi benerkan, belajar itu membuat kita makin bego?
“Kog, jadi senyum-senyum sendiri..” Mee menyentakkanku dari pikiran yang semakin jauh.
“Gimana, susah nggak?..” Tanya nya lagi.
Aku kembali tersenyum.
“Mengawali sesuatu yang membuat perubahan mendasar pada diri kita tentulah tidak mudah… dan tentu saja terasa berat, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti dan menyerah khan…?” bisikku di telinga Mee.
Mee menatapku dan mengangguk setuju.
Tampilkan postingan dengan label trustdeeword. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trustdeeword. Tampilkan semua postingan
Selasa, Februari 03, 2009
Senin, Februari 02, 2009
Hidup Adalah Sebuah Pilihan?
Entah kita sadari atau tidak, hidup yang telah dan saat ini tengah kita jalani adalah perwujudan dari berbagai pilihan dari sebuah proses dan metode, yang seringkali baru akan kita ketahui, pada saat kita mencapai suatu titik dan menoleh kebelakang.
Pilihan yang mengandung konsekuensi logis.
Pada saat menoleh kebelakang, seringkali kita bertanya, tentang apa dan mengapa kita pada saat ini, pada hari ini, berada di titik tersebut.
Apakah keberadaan kita, hingga sampai pada titik tersebut adalah sebuah keinginan dan perwujudan harapan yang kita pilih?
Entah disadari atau tidak, pada titik itu pula, kita lalu melakukan sebuah koreksi dari sebuah pilihan dan keputusan-keputusan yang telah kita ambil dalam rentang waktu yang telah kita lalui.
Hasil dari koreksi dan kontemplasi itu ternyata kita kemudian menjadi sesuatu pribadi yang baru, sesuatu pribadi yang tidak akan pernah sama dengan sebelumnya. Menjadikan kita berbeda.
Kemudian kita mulai memahami maksud atas pilihan itu.
Pilihan yang sesungguhnya tidak pernah kita ketahui maksudnya.
Dan semua yang tersembunyi didalamnya.
Menjadi rahasia antara kita dan pilihan itu sendiri.
Dengan demikian apakah hidup yang kita lakoni hari ini adalah sebuah pilihan?
Pilihan yang mengandung konsekuensi logis.
Pada saat menoleh kebelakang, seringkali kita bertanya, tentang apa dan mengapa kita pada saat ini, pada hari ini, berada di titik tersebut.
Apakah keberadaan kita, hingga sampai pada titik tersebut adalah sebuah keinginan dan perwujudan harapan yang kita pilih?
Entah disadari atau tidak, pada titik itu pula, kita lalu melakukan sebuah koreksi dari sebuah pilihan dan keputusan-keputusan yang telah kita ambil dalam rentang waktu yang telah kita lalui.
Hasil dari koreksi dan kontemplasi itu ternyata kita kemudian menjadi sesuatu pribadi yang baru, sesuatu pribadi yang tidak akan pernah sama dengan sebelumnya. Menjadikan kita berbeda.
Kemudian kita mulai memahami maksud atas pilihan itu.
Pilihan yang sesungguhnya tidak pernah kita ketahui maksudnya.
Dan semua yang tersembunyi didalamnya.
Menjadi rahasia antara kita dan pilihan itu sendiri.
Dengan demikian apakah hidup yang kita lakoni hari ini adalah sebuah pilihan?
Label:
trustdeeword
Kamis, Januari 15, 2009
Antara Aku, Mee dan Blog Baru Ku.
Masih suka nulis? tanya Mee padaku.
"nggak"... jawabku datar.
Mee diam, agaknya ia menungguku untuk memberi komentar lebih jauh atas pertanyaannya.
"aku sudah tak punya nyali" kataku lagi
mee tersenyum...
"coba saja lagi" bujuknya.
"entahlah, mungkin nanti"
"Bagaimana kalau latihan lagi di blog?
"Blog"?!!!.. keningku berkerenyit. Blog terasa asing di telingaku.
Kemudian Mee, menyodorkan kepadaku sebuah buku...
"Baca deh.."
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tetapi Mee terlihat begitu antusias.
Aku tak begitu mengerti, mengapa Mee tiba-tiba mendorongku untuk kembali menautkan kata demi kata seperti yang pernah ku lakukan bertahun lalu.
Aku benar-benar tak memahami maksud Mee.
Memang, Mee tahu, dulu aku pernah keranjingan nulis.
Mee juga tahu beberapa tulisanku pernah di muat di salah satu surat kabar harian lokal.
Mee mengklipingnya untukku. Beberapa opini, cerpen dan puisi. Bahkan sebuah "majalah sastra", yang kubuat bersama dua orang teman baikku tersimpan dengan baik.
Mee mengarsipkannya untukku.
Jujur, harus kuakui, telah seringkali, aku ingin kembali melatih kesadaranku terhadap adanya talenta itu. Sebuah talenta yang membuatku peka.
Talenta dari karya Illahiah atas kemanusiaanku yang dhoif.
Talenta yang mengajarkanku untuk berbagi ruang dan waktu.
Talenta yang memberikan energi bagi kehidupanku.
Hanya saja, di tengah gelora keinginan itu seringkali sebuah pemikiran berkecamuk.
Sebuah pertanyaan lalu mencuat dari pemikiran yang sederhana..
Apakah aku dapat membuat sesuatu yang lebih baik dari yang pernah ada?
Apakah aku akan mampu kembali menghadirkan sesuatu yang memberi banyak arti bagi banyak orang. Entahlah.
Mungkin Mee benar. Aku harus mencoba lagi. Lagi dan lagi.
Setidaknya untuk aku dan Mee
Mungkin dimulai dari Blog ini....
"nggak"... jawabku datar.
Mee diam, agaknya ia menungguku untuk memberi komentar lebih jauh atas pertanyaannya.
"aku sudah tak punya nyali" kataku lagi
mee tersenyum...
"coba saja lagi" bujuknya.
"entahlah, mungkin nanti"
"Bagaimana kalau latihan lagi di blog?
"Blog"?!!!.. keningku berkerenyit. Blog terasa asing di telingaku.
Kemudian Mee, menyodorkan kepadaku sebuah buku...
"Baca deh.."
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tetapi Mee terlihat begitu antusias.
Aku tak begitu mengerti, mengapa Mee tiba-tiba mendorongku untuk kembali menautkan kata demi kata seperti yang pernah ku lakukan bertahun lalu.
Aku benar-benar tak memahami maksud Mee.
Memang, Mee tahu, dulu aku pernah keranjingan nulis.
Mee juga tahu beberapa tulisanku pernah di muat di salah satu surat kabar harian lokal.
Mee mengklipingnya untukku. Beberapa opini, cerpen dan puisi. Bahkan sebuah "majalah sastra", yang kubuat bersama dua orang teman baikku tersimpan dengan baik.
Mee mengarsipkannya untukku.
Jujur, harus kuakui, telah seringkali, aku ingin kembali melatih kesadaranku terhadap adanya talenta itu. Sebuah talenta yang membuatku peka.
Talenta dari karya Illahiah atas kemanusiaanku yang dhoif.
Talenta yang mengajarkanku untuk berbagi ruang dan waktu.
Talenta yang memberikan energi bagi kehidupanku.
Hanya saja, di tengah gelora keinginan itu seringkali sebuah pemikiran berkecamuk.
Sebuah pertanyaan lalu mencuat dari pemikiran yang sederhana..
Apakah aku dapat membuat sesuatu yang lebih baik dari yang pernah ada?
Apakah aku akan mampu kembali menghadirkan sesuatu yang memberi banyak arti bagi banyak orang. Entahlah.
Mungkin Mee benar. Aku harus mencoba lagi. Lagi dan lagi.
Setidaknya untuk aku dan Mee
Mungkin dimulai dari Blog ini....
Label:
memulai blog,
mulai buat blog,
talenta,
trustdeeword
Langganan:
Komentar (Atom)