Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, Februari 13, 2009

Miadeenatha

Maharani simpuh mencurah pinta dikaki batara

Inginnya segera menjala titah dari surga

Abdipun mengatur sujud saat malam menjelang

Demi masa, penjuru kraton menanti sabda

Eyang putri menganggukkan kepala

Emban putri, panglima dan punakawan berkaca-kaca

Nun, batara agung lalu bicara pada hamba

Agar menyiapkan selaksa panah dan gendewa

Tameng juga kreta yudhistira, sebab batara mengerti lagi bijaksana

Hikayat tlah tertuang dalam serat

Abdi di titah memanah matahari, sebagai tiara bagi maharani.

Minggu, Februari 08, 2009

Jangan Bicara Dik !

Jangan bicara Dik !

Bila bicara hanya menambah gundah

Jangan diam Dik !

Bila diam hanya buat kau marah

Tapi, Dik ku mohon

Bicara dan diamlah saat aku minta.

dindri

Deru angin menjela bawa harum  tubuhmu padaku

Oh, permata jiwa yang hanif,

terlukis kabut malam,

dengar…

Nelangsa itu telah usai,

pertanda

Akhir pencarian akan wajah cinta

Ia sujudku pada dua pertiga malam

Nun, bawa aku pada kesaksian hidup

Dan selaksa doa tertumpah

Riuh pada langit fajar

Imajinasi lalu menyeruak

buatku pahat dua patah kata pada dinding hati

Aku bersimpuh dalam taffakur,

saat Nestapa gugur terbawa riang sang embun

lalu Aku berjanji pada hening

impian kan ku pintal pada arsy-Mu

 

kepada cinta

Pada Cinta di ujung langit

Takkah kau lihat

Di sini ada api menyeruak dari palung hati

Pada cinta disudut bayang

Takkah kau dengar

Sepertinya tak ada lagi getar batin itu

Suaranya telah mengecil

Sebab ngilu telah kubicarakan

Pada pohon randu diujung jalan.

....

Senja turun menghaturkan sujud pada malam

Lalu bintang bertandang mengajakku berdansa di awan

Aku diam sebab pintanya

Keakuanku semburat pada tungku batu

Sementara aku ingin kembali

Kecup bibir pelangi

Yang menari perlahan bersamaku

Diantara kecamuk rinai senja tadi.

Hitam Putih

Hitam Putih secarik warna

Hitam putih coretan pertanda

Hitam putih paras gelap dan terang

Hitam putih adalah potret kebajikan dan kesesatan

Hitam putih hanyalah aku

Hitam merupa bayang keabadian

Putih meraga kesesatan hati

Keduanya dipasung gelora cinta

Hanyalah aku yang meramu

Pada selapis asap dupa

Pada gatra penuh mantra

Tak seorangpun tahu

Amarah !


Amarahku mulai surut

tetapi jangan engkau lalu berdiri dihadapanku

sebab amarahku belum lagi usai

sebab busuk lidahmu kemarin tak berbatas

mengusik nuraniku

Amarahku telah melahirkan cinta

Tetapi jangan engkau lalu berdiri dihadapanku

Karena aku tak akan lagi memberimu wajah

Karena aku tak akan lagi memberi hormat kepadamu

Meski sedikit!

Agar kau mengerti !

Agar kau memahami !

Kau..Aku..datang dari negeri yang jauh

Hanya sebab puteri –puteri pertapa

Kau boleh berdiri dihadapanku

Tetapi amarahku belum lagi usai

Belum  lagi reda!

Selasa, Februari 03, 2009

Jika Aku Pergi

Jika aku pergi suatu ketika nanti
Aku harap kau mengerti
Ini bukan karena kekalahan
Apalagi sebab lelahku
Tidak!
Sama sekali tidak!.
Percayalah ini hanya karena waktuku bersamamu disini telah usai
Sebab aku telah berjumpa dengan takdir pada kiblatmu.
Jika aku pergi suatu hari nanti
Aku harap kau percaya
Aku telah memikirkannya sejak hari ini
Sebab itu kumohon jangan biarkan setitikpun air matamu jatuh untukku
Sebab itu kumohon ingatkan aku jangan ada kata sesal itu
Jika aku pergi suatu ketika nanti
Tak perlu lagi ungkit kebersamaan itu
Karena mungkin akupun telah lupa
Dan lagi pula siapa Aku?
Biarkan semua berjalan seperti apa adanya
Sebab inilah kodrat
Jika aku pergi suatu ketika nanti
Sesekali putarkan tanda-tanda yang kutinggalkan
Bukan untuk mengenangku atau mengingatku
Tetapi karena hati kita yang meminta itu
Dan nanti…
Jika aku benar-benar telah pergi
Jangan biarkan aku menoleh meskipun untuk memandangmu
Biarkan… biarkan pada saatnya nanti
Kubawa kembali diriku kepadamu dengan kereta kencana
Menjemputmu dari batas mimpi yang kugali hari ini
Dan telah kupastikan hari ini.
070804.03.54

Minggu, Januari 18, 2009

Titah Lentera

Payung kegelapan lama selimuti tapaku
Hingga jelita bawa lentera dengan kedua tangan penuh cinta
Lalu sematkan di dinding batu
Tanpa bicara
Diam…
dan
Tetap diam…
Hingga nyala lentera mengusik batin hamba
Kemudian hangatnya baluri sisi keraton atma
Yang kemarin terdera
Sedetik..panah tanya memancar dari gendewa jiwa
Menghujam direlung hati pencari derma
Wahai…mahaduta lentera
Mengapa dara bawa lentera pada hamba
Hingga sejuk tatap dara yang semburat dari bingkai kaca
Meracau tapa darma hamba
Apakah sebab titah paduka?
Lalu, dara jelita renda tawa sewangi cendana